Saat Paripurna tak lagi dihormati...

Semalam ada kejadian luar biasa menurut saya. Sidang Paripurna DPR RI membahas tentang kenaikan BBM berlangsung hingga larut, hingga pukul satu pagi. Pembahasan yang sangat alot terjadi. Memang tidak mudah rapat hingga larut malam, lelah. Tidak dipungkiri juga bila anggota rapat sudah mulai capek dan menaikkan ego masing-masing karena sama-sama lelah.


Tapi perlu diingat, mereka para wakil rakyat di Senayan merupakan orang terpelajar, orang pintar, cerdas, intelektual, dan terhormat. Lantas mengapa perilakunya sama dengan demonstran anarkis? Saat kita sepakat mengecam aksi demo anarkis, kita juga melihat aksi anarkisme terjadi di Institusi terhormat yang diisi oleh orang-orang pilihan.


Bapak/Ibu anggota yang sangat kami hormati, saya rasa apapun argumen Anda atas nama rakyat patut disampaikan, tetapi dalam ranah yang lebih kondusif. Berargumenlah dengan sikap terpelajar, satu-persatu, biarkan 5 pimpinan mengatur sidang. Saya rasa pimpinan sidang Marzuki Alie sudah sangat bijaksana menanggapi kekisruhan dalam sidang, meski ada yang kurang patut pada aksi tertentu. Tetapi over all saya rasa bapak Marzuki sangat bijak memimpin sidang, siapapun asal kondusif beliau beri kesempatan berargumen. Beliau juga tidak ingin keluar dari etika, maka ada aturan yang harus d baca untuk mempertegas. Meski notabenenya suara opsi 2 sudah mutlak, maka beliau masih ingin menghitung yang memilih opsi 1. Inilah banyak hal kebijakan pimpinan sidang. Meski ada juga yang saya nilai kurang bijak. Sperti tidak menyebutkan substansi opsi 1 dan opsi 2.


Tetapi ironisnya, bapak/ibu anggota yang kami hormati justru malah memutar kendali nahkoda kearah yang sifatnya lebih anarkis. Silahkan beradu opini dan argumen, karena itu tugas Anda sekalian. Tapi jangan ciderai institusi terhormat itu dengan celaan, kontak fisik, kerusuhan opini, interupsi tak terkontrol, dll yang bisa mendeskriditkan institusi itu sendiri.


Saya rasa sidang semalem seharusnya sangat teramat dihormati oleh semua elemen bangsa, termasuk anggota sidang, fraksi manapun, termasuk fraksi balkon. Tetapi miris saat melihat para wakil kami disana beradu argumen dengan tidak terorganisir, tembak sana tembak sini, semua saling berebut, sampai ketua sidangpun sepertinya tidak dihargai.


Ada hal lainnya, banyak "suara gaib" yang timbul saat ketua memberi kesempatan pada seseorang utk berbicara, saat ada fraksi walk out, saat keadaan ricuh didepan ketua sidang, dll. "Suara gaib" ini justru malah memberi kata-kata yang kurang etis untuk dibicarakan di saat sidang Paripurna yang terhormat. Maka dimanakah rasa bersatu para wakil rakyat? Tidakkah bapak/ibu disana bisa menghargai pendapat orang lain saat berbicara? Saya rasa ketua sidang sudah tepat mengingatkan utk menghargai orang lain saat berbicara. Memang situasi sedang memanas, tapi gunakanlah akal untuk meredamnya.


Tetapi izinkan saya mengapresiasikan penghargaan saya setinggi-tingginya untuk fraksi PKS dan Gerindra, meski beliau tahu tetap kalah di medan perang, setidaknya beliau-beliau masih bertarung sampai titik darah penghabisan demi 'suara rakyat', meski saya percaya, fraksi opsi 2 juga membawa suara rakyat. Terutama PKS yang berani menentang arus koalisi. Salut atas perjuangan hingga darah penghabisan meski hanya dengan +- 80 orang saja.


Lepas dari itu saya ingin lanjutkan tulisan ini pada konsteks anarkisme di ruang sidang. Mungkin kata anarkisme kurang tepat, lebih tepat sebagai radikalisme berlebihan. Opini tak terkontrol dan lainnya adalah aksi radikalisme yang naasnya berlebihan dosisnya. Saya tersadar, mengapa demonstran diluar sana merusak, anarkis, dan melakukan kegiatan merugikan lainnya. Saya berasumsi, bapak/ibu yang kami hormati dan patut menjadi contoh saja melakukan hal yang berlebihan, maka pantas rakyat yang mengikuti nya melakukan hal sama (meskipun tidak semua anggota).


Kemudian tadi malam sampai saat ini, kalimat "interupsi pimpinan" sontak menjadi momok negatif di khalayak masyarakat akibat efek radikalisme berlebihan di Paripurna, saat "interupsi pimpinan" membanjiri rapat dengan tak terkontrol. Lantas di Blackberry Messanger dan Twitter pun ramai-ramai memasang status "interupsi pimpinan" dilanjuti kalimat lainnya yang berdefinisi negatif pada kalimat itu. Pada kalimat yang saya rasa seharusnya sakral digunakan.


Sidang terhormat seharusnya mencerminkan sikap bijaksana, sikap saling menghormati, karena di tonton oleh masyarakat se-Indonesia, lantas tidakkah malu bersikap terlalu berlebihan seperti itu didepan rakyatnya? Mengatasnamakan rakyat, disisi lain rakyat tertawa dan malu melihat wakilnya (tidak semua) berprilaku kurang etis dalam rapat yang dihormati. Kalau saya boleh berpendapat, 'masa iya kalah sama rapat RT yang damai?'


Rakyat melihat, bersikaplah lebih bijak di forum yang terhormat. Hargailah pendapat, kita ini hidup dalam perbedaan, apapun alasan dan latar belakang opini Anda, hargailah pendapat itu. Tidakkah bapak/ibu malu dengan rakyat yang memilih Anda? Radikalisme boleh, tetapi tidak berlebihan, apalagi sampai anarkisme. Mohon maaf bila dalam tulisan saya ini ada pihak yang tersinggung, saya mohon maaf.

0 Response to "Saat Paripurna tak lagi dihormati..."

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar yang membangunnya :D