Tampilkan postingan dengan label Agen Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agen Politik. Tampilkan semua postingan

Demokrasi Munafik...! (?)

Tulisan ini menggambarkan riuh-pikuk pikiran saya terhadap kalimat penutup dalam ILC TVOne hari ini. Sengit, pedas, dan tajam. Kritis keras ke demokrasi. Pernyataan dari seorang Pemimpin Pakistan kalau saya tidak salah ingat "Demokrasi tak ayal sebuah kemunafikan" dilanjutkan dengan firman Mohandes Gandhi menyebut  "Korupsi dan kemunafikan tidak seharusnya menjadi produk yang tak terelakkan dari demokrasi". Penyesalan Gandhi itu menjadi simbol bahwa korupsi dan kemunafikan itulah hasil dari pada persetubuhan demokrasi di suatu bangsa.


Bahaya korupsi memang sudah laten di negeri ini. Tapi bukan demokrasi asbab musabab nya. Saya tidak begitu yakin kalau demokrasi yang melahirkan telur korupsi dan kemunafikan. Melainkan transparansi yang menguak semuanya dan menajdikan ini seolah-olah besar. Bukanlah demokrasi yang membuat korupsi semakin menjadi-jadi.

Terlintas di kepala saya istilah dari seorang politisi di Inggris, bernama Lord Acton dalam suratnya kepada seorang Uskup bernama Mandell Creighton. beliau berpesan, "democracy tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely". Jelas dan gamblang, pernyataan masyhur ini menyiratkan bahwa demokrasi memiliki tendensi untuk korupsi, tetapi kekuasaan mutlak berkorupsi secara mutlak. Maka melangkah maju sedikit, benar adanya demokrasi masih menghasilkan korupsi, tetapi tidak semasif otoriter. Meski kesannya kurang baik untuk membandingkan apple-to-apple seperti ini. Karena esensinya sama buruk, meski lebih sedikit.

Nah demokrasi dalam perihal ini menjadi sebuah tatanan baru untuk memberikan informasi dan transparansi pemerintahan. Maka tidak aneh kalau korupsi terkesan semakin 'membanjiri' dunia politik semenjak demokrasi berjalan. Demokrasi itu adalah manusia tanpa pakaian, telanjang bulat dan memberikan fasilitas kepada orang lain untuk melihat setiap jengkal 'luka' di tubuh Anda. Sebaliknya, dengan baju otoriter, Anda akan tertutup dari aib transparansi, tetapi tahukan Anda, saat Anda pergi untuk mandi, Anda baru mengetahui bahwa 'borok' Anda sudah dimana-mana. Rasanya kata demokrasi munafik kurang tepat untung disandingkan disini.

Itulah hasil transparansi, semua terlihat meski terkesan banyak. Tetapi otoriter menyembunyikan lebih banyak kedustaan dan kehinaan. Kalau yang transparan saja begini, lantas absolute power ?. Kesannya pun terbentuk stigma di negri ini kalau korupsi setelah reformasi sudah membabi buta, Qur'an pun tak segan di amini korupsinya. Tapi tidak ada yang tahu, seberapa besar korupsi kita di masa lampau, disaat otoriter berkuasa. Jangankan korupsi, kolusi dan nepotisme pun dihalalkan perjalanannya. Kalau membandingkan angka jelas besar sekarang, inflasi pun naik, bung. Tapi membandingkan tingkan ke-masifan daripada kelatenan korupsi itulah yang harus diperhatikan. Bisakah membayangkannya? Kuantitasnya bisa kecil, tapi kualitasnya super.

Mengedepankan objektifitas, tidak saya sanggah, bahkan saya amini pernyataan tentang demokrasi memproduksi telur-telur busuk. Inilah dunia, tidak ada sistem yang sempurna. Tapi ada yng lebih baik. Secara harfiahnya saja demokrasi mengajarkan A-Z, prinsip dan nilainya sangat luhur. Bila ada negara yng berhasil mengamalkannya, lantas presidennya adalah 'titisan' Tuhan. Tetapi kan nyatanya kemunafikan dan korupsi masih ada di demokrasi. Teori berbeda dengan kenyataan. Normativis dengan realis nya. Itu tidak bisa dipungkiri. Tapi itulah hasil demokrasi, terlihat penyakit mu. Tidak bisa menyalahkan demokrasi juga, karena ini terbentur kepentingan lapangan. Setuju bila demokrasi melahirkan kemunafikan dan korupsi, tetapi saya membela bahwa absolute power atau otoriter dan saudara-saudaranya tidak hanya melahirkan kemunafikan dan korupsi, melainkan  kesengsaraan dan kedustaan yang sangat teramat besar, hanya saja baju yang dikenakan terlalu bagus untuk menutupinya.


Mari Berpolitik!

Selamat datang di blog sederhana saya! :D
Blog saya ini sengaja saya buat untuk meng-input inspirasi saya, cerita, dan pemikiran kritis serta sikap politis saya.....

Mari berpolitik.... Politik tidak hanya dimiliki oleh kaum atas, kaum pemerintah, kaum pejabat, atau kaum intelek... Tapi politik dimiliki dan merupakan hak yang bersifat substansial bagi seluruh warga negara.... Bukankah negara demokratis adalah negara yang berpenduduk tidak apolitis?
Oleh sebabnya, jadikan diri anda salah satu dari 'agen politik' negri ini, karena negri ini butuh banyak politisi muda pewaris tahta pemerintahan dan pemegang saham utama dari negri ini..... Jadikan diri anda sebagai pribadi yang bersifat politis, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan meneruskan negri ini.

Politikpun tak hanya dimiliki mereka yang berjiwa nasionalis atau bersifat negarawan... Seluruh rakyat penghuni suatu Bangsa sebaiknya berpolitik, karena esensi dasar yang mendasari politik adalah pemikiran dan aksi rakyat untuk bagaimana caranya dapat membangun dan mensejahterakan Negara mereka masing-masing....

Sekali lagi, lestarikan hidup berpolitik, jadilah bagian dari 'agen perubahan' negri ini, bersikaplah dengan bijak, karena pewaris negri ini kalau bukan kita siapa lagi?