SNMPTN oh.. SNMPTN...
Baiklah, tulisan saya kali ini mungkin berbeda dengan topik lainnya. Tetapi saya pikir ini sangat menarik untuk ditulis.
Mengenai penjaringan mahasiswa baru, khususnya SNMPTN yang diselenggarakan Kemendiknas. Jelas, dengan keras tulisan saya ini saya tujukan kepada Yth. Bapak M. Nuh selaku mendiknas RI.
Apakah sebenarnya tujuan penjaringan SNMPTN? Bila dikatakan menjaring siswa yang pandai, saya rasa tidak, opini saya sih dilapangan temen saya yang "SANGAT PINTAR" bisa masuk ke perguruan ternama, bahkan jurusan Kedokteran, yah mereka bilang sih ada 'relasi'.. Mungkin itu opini saya saja ya?
Masalahnya bukan itu kok, ya meskipun banyak juga teman saya yang memang pintar masuk di SNMPTN. Tetapi perkara yang saya akan bahas lebih cenderung ke bagaimana sistem ini sebenarnya diterapkan.
SNMPTN saya rasa tidak sepenuhnya menjaring siswa terbaik dibidangnya. Saya beri satu contoh, seorang teman saya, yang kebetulan tetangga saya, sangat mahir bermain musik terkhusus di piano, beliau mewakili SMA saya menuju World Choir Games 2010, beliau ikut menjadi anggota paduan suara SMA saya sekaligus menjadi pemain piano di salah satu lagu yang dibawakan. Dan beliau juga, salah seorang yang mengantarkan SMA saya menang juara ... (saya lupa tepatnya) untuk salah satu kategorinya.
Tak ayal, dengan sekali berfikirpun semestinya dia bisa memasuki PTN yang prodinya menyangkut seni musik. Dari SNMPTN undangan dia mencoba ke salah satu PTN di Jawa untuk prodi seni musik, hasilnya nihil. Nilainya sangat baik, bahkan sertifikat dibidang musiknya tak perlu diragukan, menjadi seorang instruktur di salah satu les musik pula. Tapi sayang, beliau tidak berkeinginan mencoba SNMPTN tulis. Mengapa?
Jawabannya sederhana, "capek belajar lagi". Padahal saya yakin, peserta yang lolos di prodi bersangkutan tidak semua piawai dan berbakat dibidangnya. Hm... Lihatlah, ini bukan masalah siswa pilihan yang pintar yang bisa lolos SNMPTN, tetapi siswa yang memang beruntung. Mengapa, nanti akan saya beri tahu. Sekarang, dari pernyataan teman saya inilah muncul pikiran yang statik tentang SNMPTN. "Apa tujuan yang hendak dicapai?"
Berfikirlah menggunakan nalar terbaik Anda, bagaimana bisa seorang yang bercita-cita sebagai seniman harus dites kemampuan Ekonomi, Sosiologi, dan Geografinya? Atau seorang yang berniat menjadi politisi dan diplomat, harus lolos SNMPTN dengan nilai baik, tentunya bisa menuntaskan soal Geografi yang mutlak diluar cakupak disiplin ilmu yang diinginkan. Berbeda dengan seorang yang bermimpi menjadi dokter, haruskah mengerjakan soal fisika yang notabenenya memiliki tingkat kesukaran tinggi, yang jelas tidak dipakai didunia kedokteran, seperti soal perlambatan/percepatan roda, momen inersia, impuls, mesin Carnott, akankah ini digunakan di duinia kedokteran?
Lain hal lagi, Seorang yang bercita-cita mulia menggantikan kehebatan Prof. Boediono, haruskan mengerjakan soal Geografi yang jauh sekali disiplin ilmunya dengan ekonomi? Saya rasa yang lebih jauh adalah bilamana seseorang ingin mengambil jurusan sastra, harus mengerjakan pelajaran IPS yang sudah jelas dipelupuk mata, korelasinya tidak ada. Bukan berarti saya meremehkan disiplin ilmu tertentu, tetapi memaksimalkan potensi siswa. Tentu saja, kalau teknik mesin tidak layak bila komponen tesnya ada biologi atau kimia.
Bukan masalah "kerjakan pada pelajaran yang kamu anggap mudah", karena sistem nya adalah bilamana satu pelajaran berisi nilai 0 atau minus, peserta dinyatakan gugur. Jelas, seorang anak IPA yang bercita-cita ingin menjadi politisi ataupun seorang IPS yang bercita-cita mulia ingin memperbaiki bangsa Indonesia, harus terhambat karena mereka harus dengan setidaknya ada mengerjakan semua komponen soal SNMPTN.
Padahal sadarkah kita, anak yang mempunyai 'passion' kuat ini akan menjadi orang yang besar di Negri ini, tetapi itu semua terhambat hanya karena dia lemah di pelajaran Geografi. Nihil sekali. Dibandingkan orang yang 'kebetulan' lolos dan mengenyam pendidikan sebagaimana yang anak sebelumnya inginkan. Setelah lulus, hanya menjadi pengangguran...
Hmm... menurut hemat saya, kenapa pemerintah tidak melakukan tes SNMPTN sesuai jurusan masing-masing. Sebagai contoh, FISIPOL mata pelajaran sosiologi dan ekonomi mungkin.. Atau jurusan lain dengan disiplin ilmu terkait. Kalau dibilang sulit, saya rasa tidak. Toh soal datang dari pusat, jadi sebaiknya panlok masing-masing sudah menentukan jumlah paket-paket soal yang diambil peserta. Solusi lainnya, gunakanlah tes Psiokotes dan TPA serta Kemampuan Dasar, tes ini sudah terbukti menentukan minat siswa kearah yang tepat. Atau bila memang tidak mumpuni, gunakanlah sistem paket soal seperti diatas.
Lain lagi halnya dengan sistem rayon/wilayah. Teman saya sempat menuliskan statusnya di Facebook terkait hal rayonisasi. Apakah tujuannya, jangankan saya yang memiliki kecerdasan standar, teman saya yang pandaipun tidak mengerti apa maksud rayon ini. Mengapa harus mengambil 1 prodi di wilayah tersebut. Bagaimana bila seorang Papua ingin kuliah kedokteran di UGM atau UI dengan pilihan kedua Ekonomi UGM. Pilihannya hanya 3 bukan? Kemudian kemana seorang Papua ini akan mengikuti tes? Anak ini sangat brillian, pintar, cerdas. Berapa besar biaya tiket yang harus dikeluarkan, biaya hidup, penginapan? Akhirnya anak ini kuliah di PT lokal, dan sirnalah mimpi sang anak berkuliah di PTN favorit.
Maka apa alasan, alibi, atau bisa jadi jawaban dari pertanyaan dan pernyataan yang saya tuliskan diatas, yang juga diutarakan oleh jutaan siswa di Indonesia?



19.52
Rendy Wirawan Kartowijoyo
, Posted in

0 Response to "SNMPTN oh.. SNMPTN..."
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar yang membangunnya :D