Menguak "Margin Error" di PilGub DKI
Ada kesan asing di pengetahuan saya tentang himpunan kata Margin of Error. Intinya hasil temua saya merujuk pada rentan kesalahan yang bersifat random pada sampling dalm hasil sebuah survey. Kemudian menarik untuk dibahas saat beberapa (tidak perlu disebutkan) lembaga survey di Indonesia mengungkapkan angka tafsiran ilmiah untuk pemengangan PilGub DKI 2012. Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli diramalkan akan menjadi pemenang dalam kontes politik PilGub DKI 2012 ini. Tidak maksud tulisan ini untuk membahas metode riset dan survey nya, atau menyangkal hasil surveynya, terlebih untuk menyudutkan. Tulisan ini hanya bermaksud untuk menganalisa mengapa hasil survey dengan Quick Count berbeda?
Ada beberapa faktor yang bisa jadi mematahkan ramalan dari lembaga survey itu. Mungkin saja, satu hal yang fundamental, lembaga survey lupa akan masyarakay miskin. Dari beberapa lembaga survey, mereka kebanyakan menggunakan metode telefon untuk menjaring responden. Mulai dari 200, 450, hingga berapa ratus responden. Margin of error yang dideklarasikanpun berbeda, ada yang kirasan 4% bahkan ada yang haqqul yaqiin hingga 2%. Dari banyak lembaga survey menunjuk FOKE-NARA sebagai bakal pemenang dalam kontes 5 tahunan ini.
Mari kita merujuk pada faktor yang membuat mereka 'terpeleset' dalam menafsirkan bakal pemenang PilGub ini. Pertama, di DKI sendiri ada sekitar 350.000 lebih masyarakat yang dikategorikan sebagai orang miskin (BPS DKI Jakarta), dengan penghasilan kurang dari Rp.400.000 per bulannya. sedangkan respondennya hanya 450. Korelasi yang akan saya hantarkan adalah, mereka 450 yang dimintai opininya merupakan orang mampu atau berduit di Jakarta. Titik ini saya landaskan kepada kemampuan mereka untuk membeli telefon beserta pulsanya. Intinya adalah, bisa jadi absensi orang miskin ini merupakan nilai tambah (meski tidak mutlak bisa memenangkan Jokowi-Ahok) kepada Jokowi-Ahok. Terlebih membaca strategi politik Jokowi yang luar biasa, cenderung terjun on the field menuju rakyat yang "dipinggirkan" dan lebih bisa memikat hati rakyat Jakarta melalui terobosan politiknya (makan di jalanan, naik metro mini, dll). Faktor X ini yang merupakan booster bagi Jokowi untuk melakukan akselerasi politiknya dalam kampanye PilGub DKI, meski tidak di tampikkan juga aksi politiknya di Solo sangat berpengaruh. langkah strategik ini yang mendorong Jokowi-Ahok untuk dipilih kebanyakan kalangan menengah kebawah, bisa jadi juga menengah ke atas, terlebih suatu lembaga sudah mendeklarasikan bahwa 100% warga Tionghoa Jakarta memilih Jokowi-Ahok. Hal ini yang lupa di baca oleh banyak lembaga survey, merespon kalangan bawah dan etnis berbeda (meski mereka bisa juga melakukan interaksi ke banyak grup/plural).
Faktor Y yang kemudian timbul adalah strategi survey untuk pemengangan. Suatu lembaga survey di Indonesia mengakui salah satu kandidat mensponsori survey itu. Disisi lain, wajar bila ada win solution yang dihadirkan oleh lembaga ini demi memenangkan si sponsor, karena jelas lembaga ini adalah konsultan politik. Maka sinyal yang timbul adalah pemenangan Foke-Nara dalam survey merupakan strategi politik yang jitu. Dalam memetakan politik ini, sang lembaga menyiarkan bakal pemenang PilGub ini, yaitu Foke-Nara. Mengimplikasikan strategi agar pembentukan opini bahwa Foke-Nara akan menang dan voters pada pilihan lain akan berfikir bahwa pilihannya akan kalah, dan lebih baik golput atau pilih Foke-Nara. Penanaman stigma ini tidak disadari, tetapi perlahan membentuk opini. Entah mengapa agak gagal, karena pemenangnya adalah Jokowi-Ahok (merujuk Quick Count).
Analisa faktor lain, bisa jadi sang surveyor tanpa sengaja melakukan interview terhadap kebanyakan pendukung Foke-Nara. dengan responden 450, sepertinya, seobjektif apapun survey itu, tidak akan efektif bila dibandingkan jumlah total penduduk DKI Jakarta, kata kurang terwakili mungkin lebih pas untuk menggambarkanya. Mungkin setidaknya setengah atau 51% rakyat Jakarta di survey, baru nyata hasilnya. Hehehee...
Mungkin kata 'takabur' yang tepat untuk mendeskripsikan kegagalan ini. Dengan margin error yang kecil, para penggelar survey sepertinya yakin Foke-Nara yang akan menguasai DKI untuk kedua kalinya. Ternyata suara Tuhan berbeda, Tuhan menyambung lidah-Nya melalui rakyat DKI untuk memilih Jokowi-Ahok. Dan pertanyaan berikutnya, mungkinkah incumbent akan kalah? Politik 2 periode tidak akan terjadi di DKI? Dan akankah segala survey kehilangan penganutnya? Ini saat survey tidak lagi menjadi 'prakiraan cuaca' dalam ranah politik. Lantas margin of error itu sepertinya benar-benar menjadi fatal error dalam menentukan hasil survey.
Di ujung tulisan ini, saya hanya mengingatkan kalau tulisan ini hanya bersifat opini. Analisa didalamnya tentu saja bisa diperdebatkan. Tidak ada unsur untuk menyudutkan siapapun. Saya berusaha objektif untuk menganalisa mengapa survey salah sasaran menunjuk bakal pemenang PilGub DKI. Berusaha objektif meski tidak bisa 100%.



16.11
Rendy Wirawan Kartowijoyo
, Posted in

0 Response to "Menguak "Margin Error" di PilGub DKI"
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar yang membangunnya :D