Ini Klimaksnya..!

Opini ini sebenarnya sudah menjadi draft saat saya liburan kemarin d Balikpapan, akan tetapi sepertinya waktu libur sebulan saya tidak cukup untuk merampungkan tulisan abstrak ini. Sepertinya waktu saya disana sudah habis termakan bersama keluarga.

Pada tulisan kali ini saya coba untuk menilik kebelakang lagi, ke sekitaran satu-dua bulan lalu, saat kasus Wisma Atlet menerkan satu TSK baru. Dulu saat Nazaruddin tertangkap banyak orang mengasumsikan inilah anti-klimaks, maka saya berargumen ini mau ke titik klimaks. Seperti apa yang sudah pernah saya tulis sebelumnya d blog ini. Saya lebih melihat penangkapan beliau sebagai satu "turning point" (tetapi bukan anti-klimaks) untuk mencapai titik puncak kasus ini. Maka apa yang saya yakini, syukur benar. Bila salah, terlihatlah kebodohan saya dalam menulis kritik d blog ini.

Mengapa saya kemarin berkata ini jalan mau ke klimaks, atau dalam beberapa perluasan saya berargumen ini klimaks. Tetapi saya lebih yakin ini penaikan titik puncak. Maka puncaknya, menurut saya, adalah saat ibu Anggelina Sondakh dijadikan tersangka oleh KPK. Pun bapak Abraham Samad, berkata inilah kunci untuk ke pintu berikutnya. Maka saya bisa berasumsi, bahwa penangkapan ini merupakan klimaks dari kasus Wisma Atlet, harapan besar pada ibu Angiee sebagai kunci ke pintu yang berikutnya.

Saya tidak akan beranjak ke hal teknis atau hukum. Konteks yang akan saya bahas lagi-lagi adalah konsep substansinya. Yang fundamental dari kasus ini merupakan agenda perspektif politik yang ada di kepala saya. Konsep politik ini saya klarifikasi bahwa bukan berarti kasus ini d politisasi, tetapi saya melihatnya menggunakan kacamata politik. Maka boleh saja saya berpendapat, bahwa penangkapan ini merupakan suatu akuisi dari ekspektasi masyarakat terhadap kasus Wisma Atlet, mungkin rakyat seditik gembira karena ada kemajuan dalam kasus ini, tetapi masih kecewa mengapa masih lamban menuntaskannya. Indikator lamban saya asumsikan dari ahli kunci, ibu Anggie yang memang KPK berkata ini merupakan kunci ke pintu berikutnya. Maka dari sana, berangkat sebuah ekspektasi masyarakat yang begitu besar untuk menyelesaikan kasus ini. Kunci kotak pandora sudah di tangan, lantas mengapa sang pemegang kunci sepertinya masih berfikir untuk membuka kunci, mungkin takut saat dibuka ternyata kotak pandora berisi harimau atau singa?

Di lain sisi, saya harus menghargai jerih payah dan usaha dari KPK untuk beritiket baik menyelesaikan kasus ini. Mungkin kesan lamban memang terasa, tapi itu bisa jadi dikarenakan proses penyidikan dan pencarian fakta oleh tim KPK yang sulit. Karena bila sudah menjadi tersangka KPK, sepertinya stigma yang ada adalah orang itu sudah bersalah, dan jarang yang bisa bebas dari beleunggu  tersangka itu. Kebanyakan berakhir di hotel rodeo. Maka KPK benar harus hati-hati dalam menetapkan tersangka baru untuk membuka dan mengetahui isi kotak pandora ini. Tetapi memang, ekspektasi masyarakat termasuk saya, sangat berlebihan saat melihat lambannya KPK menangani ini, saya rasa ini emosional saja, tetapi dasarnya, kita harus dukung dan percaya pada KPK.

Maka inilah apa yang saya yakini menjadi klimaks. Bila orang berkata penangkapan Nazarudin adalah anti-klimaks, maka penetapan ibu Anggie sebagai tersangka merupakan akhir cerita?. Maka saya berpendapat inilah semoga klimaks nya, tahap berikut biar kita lihat anti-klimaks nya, dalam arti kata dalang utama tertangkap dalam "penurunan konflik" dan setelah itu kisah ini akan berakhir pada penyelesaiannnya. Saya bisa analogikan ini seperti konsep cerita dalam pelajaran bahasa Indonesia (konflik muncul, klimaks, anti, dsb) seperti diatas.

Sekali lagi, ini hanya pandangan pribadi, pandangan dari mahasiswa yang lebih senang untuk menjadi anti-mainstream. Pratinjau saya bisa saja salah, atau d counter,  tepati ini hanyalah opini rakyat yang tidak apatis. Maka  mohon maaf bila ada yang tersinggung atau salah kata.

0 Response to "Ini Klimaksnya..!"

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar yang membangunnya :D