Surat sekarang tak lagi CONFIDENTIAL...
Sebelumnya, ini menjadi tulisan awal saya setelah saya menjajaki dunia perkuliahan. Terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada yang bersedia menerima saya menajdi mahasiswanya di jurusan Ilmu Hub. Internasional.
Setelah vacuum selama ini sebenarnya tidak banyak isu yang mencuat dari media yang bisa saya apresiasi. Tetapi ada satu isu yang menarik untuk saya apresiasi di blog “less information” saya ini.
Minggu lalu saya menonton acara di suatu stasiun TV swasta, acara yang sangat saya idolakan sebenarnya, dan saya sesalkan kenapa hanya hadir seminggu sekali. Tapi sudahlah, yang akan saya bahas sebenarnya adalah isu yang tampak di acara itu. Isu Surat palsu MK.
Apa yang menarik dari isu ini?
Dari kacamata seorang mahasiswa baru yang buta politik dan advance science saya melihat ini sebagai suatu pintalan benang yang tidak terlihat dimana ujungnya. Aneh. Bahkan unik.
Diluar kasus ini tidak terselesaikan, siapa yang salah, bahkan semua yang terlibat saling mendiskreditkan satu dengan lainnya. Saya lebih melihat ini sebagai sesuatu hal yang sudah direkayasa bahkan di organisir sedemikian rupanya hingga menjadi suatu kebohongan atau pemfitnahan yang sangat epik.
Semoga tulisan saya ini menjadi opini yang berimbang dan objektif. Saya tidak akan menghakimi siapa yang salah, karena jelas saya bukan ahli hukum. Saya melihat ini dari segi pendapat saya yang mungkin berbeda dengan banyak orang.
Kasus surat MK ini sebenarnya sudah lama timbul ke permukaan dunia demokrasi di indonesia yang baru saja dimulai. Apakah surat ini mencacati demokrasi di Indonesia? saya juga berharap tidak. Surat ini seolah-olah bagaikan bola api, yang selalu dilontar kesana-kemari karena PANASnya surat ini.
Yang terhormat Ibu Andi mengatakan tidak memegang surat ini, begitu pula dengan Yang terhormat Bapak Mahfuz mengatakan bahwa disinyalir ada surat palsu yang dibuat ibu Andi. Atau apalah ceritanya, sejujurnya saya juga kurang mengerti, terlalu kompleks.
Tetapi yang jelas, yang saya soroti adalah epik cerita ini sangat sempurna, polisi-pun belum mengetahui siapa yang salah, kasus yang “tidak diakui” oleh kedua belah pihak ini membawa esensi tersendiri. Siapakah yang benar? Siapakah yang salah?
Berlarut semakin berlarut kasus ini. Tidak ada titik terang dari kedustaan duniawi ini. Semacam mencari rambut ditumpukan gunungan jerami. Atau mencari ujung benang dari pintalan kesatuan benang yang “ruet”.
Pertanyaan saya, apakah Anda membaca opini ini dengan kepala bingung? Apakah opini saya membingungkan? Ataukan memutar-mutar saja?
Kalau iya, memang itulah yang ada dipikiran saya, otak saya juga ikut melilit memikirkan benang ruet ini.



16.52
Rendy Wirawan Kartowijoyo
, Posted in

0 Response to "Surat sekarang tak lagi CONFIDENTIAL..."
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar yang membangunnya :D